Minggu, 18 November 2012

Misteri Kematian Freddie Mercury

Kindly Bookmark and Share it:

Spekulasi panjang mengenai kondisi kesehatan Freddie Mercury berakhir dengan kesimpulan dramatis. Dalam waktu 24 jam setelah pengakuan terbuka bahwa dirinya mengidap AIDS, Freddie meninggal dunia akibat bronchial pneumonia yang tidak mampu diatasi oleh sistem kekebalannya yang telah lumpuh. Tragis, Freddie wafat saat karirnya bersama Queen sedang berada di puncak. Kendati begitu, karya-karyanya tetap menjaga ‘nyawa’ Freddie Mercury hingga kini.


November 1989, tabloid The Sun memancing reaksi dengan memasang headline ‘Resmi Sudah! Freddie Sakit Keras’. Judul itu ditulis karena Freddie mengasingkan diri di rumahnya yang berada di Kensington, London. ”Freddie baik-baik saja dan dipastikan tidak mengidap AIDS, saya rasa gaya hidup rock n’ roll-nya yang liar telah mempengaruhi kondisinya,” dengan simpatik, Bryan May, gitaris Queen, menanggapi.  Lebih jauh di bulan yang sama, sang vokalis ‘tertangkap’ The Sun sedang meninggalkan ruang praktik dokter F. Gordon Atkinson di Harley Street. ”Tampak Lelah dan Kurus,” demikian tajuknya saat itu. ”Selama empat bulan dia mengerjakan album baru tanpa istirahat. Dia hanya kelelahan,” lagi-lagi juru bicara Queen menyangkal.

Setelah terlalu lama ditutup-tutupi, pada 22 November 1991 manager dan personil Queen memutuskan untuk mengumumkan keadaan Freddie yang sesungguhnya. Sabtu, 23 November 1991 manager Jim Beach mengungkapkan rasa prihatinannya terhadap keadaan Freddie yang sudah mendekati ajal. Ia berharap para penggemar mengerti tentang kondisi ini. Freddie sendiri akhirnya buka mulut, ”Setelah banyak spekulasi di media massa, saya ingin mengkonfirmasikan bahwa saya mengidap HIV positif dan AIDS. Saya rasa tindakan yang tepat untuk menyimpan informasi ini hingga sekarang, demi melindungi privasi orang-orang yang berada di sekitar saya,“ demikian ucap Freddie. Sehari setelah pernyataan resminya itu, 24 November 1991, Freddie meninggal dunia di rumahnya yang mewah di Logan Place, Kensington..

Kehidupan Freddie yang bergelimang uang menjadikannya pribadi yang dikenal sering berganti-ganti pasangan. Semasa hidupnya, Freddie memiliki pacar bernama Mary Austin. Namun ia juga tak menutupi bahwa dirinya adalah seorang homoseksual. Jim Hutton, seorang penata rambut terkenal, adalah pelabuhan cinta terakhir Freddie. Hutton hidup dengan Freddie selama enam tahun, merawat Freddie saat sakit serta mendampinginya hingga akhir hidupnya. Hutton menjadi satu-satunya saksi ketika Freddie mulai buta, tubuhnya lemah hingga tak mampu lagi bangun dari tempat tidur.

Sebagai seorang Parsi, pemakaman Freddie dilakukan dengan tradisi Zoroastrian. Jenazahnya dikremasi di West London Cemetery di Kensal Green. Pemakamannya yang tertutup, hanya diikuti oleh orangtua dan teman-teman dekat Freddie, mereka adalah Brian May, Roger Taylor, John Deacon, Elton John, dan Dave Clark, mantan drumer dan leader The Dave Clark Five. Pemakaman itu dipimpin seorang pendeta Zoroastrian  yang menyanyikan lagu kuno dari kepercayaan tersebut, Zuluwest Lion. Musik dari diva Spanyol, Montserrat Caballe juga dimainkan selama upacara tersebut. Hingga kini tak ada yang tahu di mana abunya disimpan. “Freddie adalah misteri, tak seorang pun benar-benar tahu dari mana dia berasal,” tutur Brian May.

Kematian Freddie Mercury, yang lahir dengan nama Farrokh Bulsara tahun 1964, banyak memberi inspirasi tajuk utama di media tabloid Inggris, semuanya bernada simpatik terhadap rocker flamboyan itu. Sebuah papan iklan didirikan untuk menghormatinya di atas Hammersmith Odeon. Papan itu menggambarkan kejayaan Queen pada masa lalu. Para pengendara taksi di dekat rumah Freddie mengedipkan lampu taksi mereka sebagai penghormatan dan menolak menaikkan penumpang.

Saat menerima Brits Award untuk singel terbaik sepanjang tahun 1991, ”These Are The Days Of Our Lives”, dalam acara British Music Industry Rock And Pop Awards pada 12 Febuari 1992. Roger Taylor mengumumkan akan digelarnya sebuah konser bertajuk The Freddie Mercury Tribute Concert for AIDS Awareness di Wembley stadium tanggal 20 April. Selain untuk mengenang Freddie, konser itu juga untuk meningkatkan kesadaran publik akan bahaya HIV/AIDS dan mendukung program pencegahan penularan HIV yang diusung organisasi nirlaba, The Mercury Phoenix Trust. Konser ini disebut-sebut bakal menyaingi Live Aid, konser amal yang diprakarsai Bob Geldof pada tahun 1984. Benar saja, 72.000 penggemar fanatik Queen dari seluruh dunia langsung ‘menyikat’ habis tiket yang disediakan. Cukup masuk akal mengingat sejumlah besar musisi rock jempolan tampil disana, diantaranya Robert Plant, Roger Daltrey, Extreme, Elton John, Metallica, David Bowie, Annie Lennox, Tony Iommi, Guns N’ Roses, Elizabeth Taylor, George Michael, Def Leppard dan Liza Minnelli. Konser itu sendiri disiarkan secara langsung ke 76 negara dan disaksikan sebanyak 1 milyar pasang mata. Hasilnya, 10 juta poundsterling berhasil dikumpulkan dalam konser ini. Ini adalah tribute concert terbesar dalam sejarah musik rock.

Penghargaan bagi Freddie ternyata tak hanya sampai disitu, sebuah patung di Montreux, Swiss dibuat oleh Irena Sedlecka. Patung setinggi 3 meter yang menghadap Lake Geneva itu diresmikan oleh ayah Freddie, Bomi Bulsara bersama diva Spanyol Montserrat Caballe pada 26 November 1996. Dan sejak  2003, fans dari seluruh penjuru dunia berkumpul setiap tahun di Swiss menghadiri Freddie Mercury Montreux Memorial Day. Kini setelah 18 tahun Freddie meninggalkan hingar bingar panggung rock n’ roll untuk selamanya. Kiprah dan jasa Freddie pun diabadikan oleh rakyat Feltham, kota kecil di pinggir London.  Feltham adalah rumah pertama Freddie di Inggris setelah ia tiba dari Zanzibar. Sebuah prasasti untuk Freddie diresmikan pada Selasa, 24 November 2009 lalu. Pengukuhan prasasti dilakukan oleh ibunya yang berusia 87 tahun, Jer Bulsara, dan sahabat Freddie yang juga gitaris Queen, Brian May, yang juga besar di Feltham. Prasasti berupa pualam putih itu dibangun di sebuah pusat perbelanjaan. ”Kita mengira jasa Freddie cuma dikenang sesaat, tetapi ternyata berkesinambungan dan dunia ikut menikmatinya,” ujar Jer Bulsara.


0 komentar:

Poskan Komentar

Follow by Email